Alternate Universe GreNin

Gracia menarik napasnya dalam-dalam membaca pesan dari orangtuanya.


Sesibuk itu kah hingga njenguk anak sendiri aja gak bisa? Orang tua macam apa yang lebih mementingkan pekerjaan daripada putrinya sendiri.


Namun dia kemudian kembali berfikir kembali. Bukannya emang dari dulu orang tuanya begitu? para putrinya yang masih kecil aja udah dititipkan ke rumah neneknya jadi maklum kalo orangtuanya lebih mementingkan pekerjaan


Gracia tersenyum getir dengan kondisi keadaannya sendiri sudah tak dipedulikan oleh orang tuanya, ditolak oleh sahabat sendiri. Kurang lengkap apa penderitaannya.


"Ge"


Panggilan Anin tak dipedulikan oleh Gracia, dia tetap berlalu masuk ke ruangan dimana Azizi dirawat.


Begitu masuk terlihat adiknya Azizi yang tengah terbaring di ranjang perawatan.


"Azizi ya ampun udah berapa kali kakak bilang kalo gak bisa naik mobil gak usah naik mobil"


"Lihat sekarang keadaanmu, ceroboh bgt sih kamu jadi adek, pliss lah sekali-kali yang bikin masalah"


Cerocos Gracia yang langsung menghujani adeknya itu dengan ceramahan khasnya.


Azizi yang diceramahin tak bisa berbuat banyak, ingin sekali dia pergi atau menutup kedua telinganya.


Namun apa daya tangan dan kakinya saja sedang diperban, bagaimana bisa ia melakukannya.


Terpaksa dia hanya diam saja menunggu sampai kakaknya itu berhenti berbicara.


"Udah selesai kak, puas?"


Ucap Azizi yang sudah setengah jam diceramahin tanpa henti, rasanya dia benar-benar sudah tak tahan.


"Belum"


"Kalo belum mending kakak cari makan dulu biar ada tenaga buat ceramahin aku lagi, sekalian aku juga dibeliin"


Saran Azizi yang memang tengah lapar, biar saja dia diceramahin terus-menerus yang penting ada makanan.


Sebagai kakak yang baik mau gak mau dia pergi keluar untuk mencari makanan. Ya semarah apapun dia tetap menyayangi adiknya itu.


Setelah berkeliling akhirnya dia membawa makanan yang paling disukai Azizi. Apalagi kalau bukan Martabak manis spesial.


Saat ini Gracia berada di lorong menuju ke kamar Azizi. Lorong ini sangatlah sepi karna itulah dia melirik jam di tangannya yang ternyata sudah menunjukan pukul 22.30. 


"Pantas saja lorong ini sepi"


Batin Gracia terus berjalan melewati lorong panjang itu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang sedang tertuduk sendirian di kursi tunggu.


Dia kemudian mendekatinya. Seseorang yang amat dikenalinya itu siapa lagi kalau bukan Anin.


"Nin, kenapa kok disini sendirian?"


Ucapan Gracia seketika membuat Anin yang tadinya tendunduk kemudian mendongkak ke atas.


"Eh kamu ge, aku gapapa aku lagi cari udara segar aja"


Sahut Anin, terdengar dari suaranya serak serta kelopak matanya yang kusut dapat dipastikan kalo Anin seperti habis menangis.


"Gak usah bohong nin, gue nih sahabat loh gue tau lu pasti habis nangis"


"Pasti gara-gara kelakuan gue tadi ya, kalo iya gue minta maaf deh"


Ucap Gracia menutup kedua tangannya mengisyaratkan tanda minta maaf.


"Gak kok ge, gue bukan lo gak salah kok, ini cuma-"


Anin berhenti berbicara, rasanya dia tak perlu menceritakan ini kepada Gracia.


"Kenapa nin, cerita sama kalo lu ada masalah?"


Kata Gracia yang kemudian ikut duduk disebelahnya. Kemudian mendesak Anin untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Gue putus sama pacar gue"


Anin yang terus menerus dipaksa buat berbicara akhirnya mulai menceritakan mulai dari awal sampai akhir kenapa dia putus dari sang pacar. 


Gracia yang mendengarnya menjadi iba namun agak senang karna tidak ada batu sandungan lagi untuk mendapatkan Anin.


Jahat gak sih dia bisa-bisanya sampai berfikir seperti itu.


"Nangis aja nin, gak usah ditahan"


Gracia memeluk Anin yang sedang terisak, mencoba menenangkannya.


"Mungkin sekarang aku belum bisa mendapatkan hatimu tapi suatu saat nanti pasti aku bisa mendapatkannya"


"Kalo saja hal itu terjadi tak akan pernah kubuat kau menangis seperti ini"

Komentar

Postingan Populer